#Tulisan : Menjaga Perasaan

Tulisan ini bermula dari sebuah percakapan saya di sebuah grup. Intinya sie grup itu sering membahas mengenai politik dan agama. Dua bahasan topik ini pun cukup sensitif menurut saya apalagi dalam grup ini terdapat beberapa orang yang menganut keyakinan yang berbeda. Dan akhirnya mengakibatkan beberapa orang ini merasa tidak nyaman dengan pembicaraan grup tersebut sehingga akhirnya keluar dari grup. Saya jujur pun kurang nyaman dengan pembahasan dua hal tersebut karena menyangkut perasaan dan keyakinan orang lain namun karena tujuan grup ini adalah tempat silaturahim akhirnya saya memilih untuk tidak keluar.

Kejadian di atas tentunya sangat disayangkan apabila terjadi tidak hanya di grup yang saya ikuti, mungkin juga bisa terjadi atau sudah terjadi di komunitas-komunitas lainnya. Kerugian pertama adalah putusnya tali silaturahim, padahal kita tahu hal itu sangat penting untuk saling menjaga komunikasi dengan teman-teman kita dan bisa mengetahui kabar teman-teman kita baik kabar bahagia maupun kabar sedih. Paling tidak usaha kita untuk mereka adalah selalu mendoakan mereka. Itu artinya kalau suatu komunitas atau grup sudah pecah adalah putusnya silaturahim berarti bakal sedkit juga donk orang-orang yang berdoa untuk kita. Hal tersebut kan juga sebagai lahan amal untuk kita semua, untuk saling mendoakan yang terbaik.

Sehingga ada baiknya, kita sebagai seorang manusia yang dapat memahami perbedaan atau suatu isu dengan cara pandang yang lebih luas, mampu berfikir lebih bijak dan jauh ke depan  “Apakah bila saya mengatakan hal ini, mereka akan marah, apakah bila saya mengatakan ini mereka akan sakit hati”? Banyak hal yang harus kita fikirkan sebelum kita menulis atau berpendapat. Termasuk saya saat ini sebagai penulis yang hanya berniat menulis saran yang mungkin dapat berguna bagi pembaca. Bila tidak atau ada sesuatu yang salah dalam tulisan ini, saya pun menerima kritikan tersebut karena itu bisa menjadi pembelajaran bagi saya.

Sehingga ada baiknya saat kita berpendapat atau memberikan saran, kita fikirkan akibat terburuk yang akan terjadi dan lebih menyaring kata-kata saat kita akan mengungkapkannya. Pemilihan suasana pun penting. Mungkin beberapa orang punya banyak cara dalam mengeluarkan pendapat ada yang dengan bercanda, kasar atau halus serta mendekati seperti sahabat. Saya pribadi lebih suka diberi saran dengan cara halus dan didekati seperti sahabat. Karena kalau dengan bercanda, apabial hal yang diungkapkan merupakan hal yang bersifaat krusial seperti keyakinan saya rasa kurang tepat rasanya. Cara kasar saya rasa itu adalah cara yang kurang baik atau malah tidak disarankan. Orang yang diberi saran yang ada malah merasa tersinggung atau dia akan semakin melawan malahan.Hal itu pernah terjadi dengan saya pada saat saya menjabat sebagai Sekretari di sebuah organisasi kemahasiswaan. Seorang adik kelas saya laki-laki  mengatakan “Mbak make baju apa ci, bolong-bolong gtu kayak kurang bahan” . Jujur saya merasa sakit, apaa maksudnya coba. Padahal saat itu saya memang menggunakan celana jeans dengan sweater yang sudah saya lapisi dengan manset, hanya memang saya menggunakan sweater berlengan pendek. Tapi yang saya tidak suka adalah  cara penyampaiannya dan di ada beberapa orang di sekitar saya. Saya kan jadi malu. Semenjak itu saya malah semakin berpakaian tidak benar. Apalagi saya termasuk orang yang tidak bisa dinasehati dengan cara seperti itu.

Back to topic, jadi dari beberapa kisah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa saat kita memutuskan untuk mengungkapkan sesuatu pikirkan apa reaksi orang sekitar. Memang kadang perlu kita untuk menyidir seseorang yang salah dengan cara seperti itu. Tapi ada baiknya kita bicara langsung dengan orang tersebut, karena bisa jadi ada orang lain yang merasa tersinggung. Karena kita tidak pernah tahu bagaimana caranya menyembuhkan sakit hati seseorang. Atau saat ingin kampanye atau promosi, please pastikan kata-kata yang terungkap tidak ada yang menyindir SARA. Dan diharapkan promosi atau kampanye di waktu yang tepat dan cara yang tepat.

Saya rasa setiap agama mengajarkan kita sebagai umat manusia untuk saling toleransi dan menjaga perasaan. Kita boleh bahkan diwajibkan untuk meyakini pedoman agama kita dan ajaran-ajarannya. Namun kita juga tidak bisa  memaksakan keyakinan kita terhadap orang lain. Setiap orang berhak untuk beragama apa. Dan kita sebagai kaum Muslim percaya dengan apa yang telah dijanjikan Allah swt kepada hamba-Nya apabila kita menjalani segala kewajiban-kewajiban kita sebagai seorang Muslim. Agamamu Agamamu. Agamaku agamaku. Apabila ada yang ingin belajar tentang slam kita terima dengan tangan terbuka dan senyuman, apabila tidak ya sudah, yang penting kita selalu mendoakan mereka dan tidak menyakiti hati mereka. Terinspirasi dari buku karya Hanum Rais “99 Cahaya di Langit Eropa”: Jadilah agent of change Muslim yang baik yang bisa meningkatkan nilai Agama Islam lebih tinggi dan dihargai oleh orang lain baik oleh Muslim itu sendiri atau masyarakat lain. Bayangkanlah apabila kita berada di negara dimana kita Muslim adalah kaum Minoritas, pasti rasanya sedih, marah, ingin menangis saat agama kita diperbincangkan dengan bahasan yang kurang baik atau dikucilkan. Nah, kini bayangkanlah apabila itu terjadi sebaliknya di sini. Kita bisa bayangkan dong perasaan mereka. So, mulai saat ini yuk kita saling menjaga perasaan teman-teman kita. Kita tetap dapat menjalani kewajiban agama kita dengan baik tanpa menyakiti hati mereka. Sama halnya juga dengan mereka.

Ada suatu rangkaian kalimat yang saya suka  yang diutarakan oleh teman saya di jejaring sosialnya:

“Pengetahuan itu sama seperti orang yang berjalan mendaki gunung. Semakin banyak pengetahuannya semakin cepat di berada di atas gunung. Di gunung itu dia bisa melihat semua hal dari berbagai sudut pandang. “

Pengetahuan tidak perlu diukur dari tingkat pendidikan tapi dengan banyak membaca dan mendengar. Dengan pandangan yang luas kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi bila kita melakukan suatu tindakan.

Mohon maaf apabila tulisan ini ada yang salah atau membuat orang lain merasa tersinggung.

Semangatt!! ^_^

*Notetomyself

#agessty #tulisan #renungan #reminder #dramaga-bogor #8.18 p.m

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s