Cerpen: Khawatir

Riuh ruang tak membuat dirimu terganggu sepertinya. Tempat itu pun selalu menjadi favorit dirimu untuk menyepi. Ya termasuk aku, tempat diriku menatapmu agar lebih mudah ๐Ÿ˜€ walau yang terlihat hanya wajah sampingmu dengan jilbab berwarna hijau tosca.

Hei, kamu di pojok sana kenapa kau tidak menoleh? Aku telah menatapmu tanpa henti selama 1 jam disini, namun kau sepertinya tak ada niatan untuk menoleh sekalipun. Aku melihatmu hanya menatap lembaran kertas putih tanpa tulisan tanpa torehan penamu. Apa yang kau pikirkan, hai gadis? Kau seperti sedang berfkir keras tentang sesuatu? Apa yang sedang kau khawatirkan? Nikmatilah hidupmu gadis, dengan caramu yang bisa buatmu tertawa lepas dan tersenyum. Apa yang kau khwatirkan gadis? Masa depan ? Ah, dasar wanita memang selalu begitu. Suka berfikir terlalu jauh padahal hal tersebut belum tentu terjadi. Suka menerka nerka kejadian yang tidak mereka inginkan. Apa yang kau khawatirkan gadiis? Sikap orang-orang di sekelilingmu? Sudahlah, tak usah membuatmu berfikir keras gadis, asal kau tidak pernah melakukan kesalahan dengan sengaja, bertutur lisan dengan baik, bahkan mampu membuat sekitarmu nyaman in shaa Allah semua akan baik-baik gadis.

Percayalah gadis, asal kau bekerja keras sesuai dengan planning terbaikmu dan selalu mengikutsertakan Tuhan dalam segala urusanmu, kurasa kau tak perlu khawatir. Yang kau perlukan hanya percaya dan berserah diri terhadapNya, gadis. Jikalau apa yang kau inginkan gagal, kau pun tak perlu terllau jatuh gadis, tak perlu kau pikirkan pula kejadian buruk apalagi yang akan terjadi padamu. Cukup kau jadikan sebagai pelajaran dan membuatmu terus percaya bahwa Tuhan Maha Adil karena dia tidak akan pernah salah dalam memberikan kadar ujian untuk hambaNya. Bisa jadi itu adalah ujian untuk aku naik kelas dalam kehidupan ini. So, apa yang kau khawatirkan lagi gadis?

Tenanglah gadis, aku pun sedang berusaha keras untuk mendapatkanmu dengan memantaskan diriku terlebih dahulu. Kalaupun aku gagal, aku percaya kok kamu akan lebih bahagia dengan pasanganmu begitupin diriku. So,, apa lagi yang kau khawatirkan Gadis? :p

“Buk” tiba-tiba pundakku dipukul oleh teman, “Hei ngelamun aja lu, udah adzan ni,, yuk ke mushola, salat dzuhur dulu kita. Aku pun beranjak dari kursiku, masih menatapmu untuk terakhir kalinya #eaaa #lebay

Hai, Gadis, aku salat zuhur dulu ya, supaya bisa jadi imam yang baik untuk keluarga nanti.

So, apa yang kau khawatirkan lagi gadis? ๐Ÿ˜€

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s