Review Buku : Faith and the City by Hanum Salsabiela Rais

P51208-015400 (1)

Sederhana dan Amazing. Dua kata yang tersirat dalam benak saya setelah selesai membaca halaman terakhir buku ini. Akhirnya hari ini, buku Faith ad the City yang saya order pada tanggal 4 kemarin mendarat mulus di kantor saya. Penasaran akan cerita apa lagi yang akan disajikan oleh mbak Hanum, saya langsung melahapnya di hari ini juga dalam kurun waktu 3 jam.  Aliran cerita mengenai perjalanan mba Hanum dan mas Rangga selama di kota New York selama 3 minggu tertuang di dalam 224 halaman buku ini.  Lanjutan cerita Bulan Terbelah di Langit Amerika berlanjut di dalam buku ini dengan tema yang lebih spesifik lagi yaitu mengenai keluarga, cinta, impian dan keteguhan hati. Setelah malam terpenting yang dialami oleh Philipus Brown, Azima Hussein, Sarah Hussein dan Layla Brown karena jembatan terbaik yang dihubungkan oleh Hanum dan Rangga, semua menjadi berubah. Tidak hanya Azima Hussein yang kembali menunjukkan identitasnya sebagai seorang muslim dengan hijabnya, namun Hanum pun mengalami sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Hanum ditawari oleh idolanya yaitu Andy Cooper sebagai seorang jurnalis dalam sebuah stasiun televisi terkemuka di Newyork (GNTV) selama 3 minggu. New York kota yang menjadi impian semua orang dengan hingar bingarnya, seperti memiliki kekuatan magis yang menarik semua orang untuk berada di kota ini.

Keputusannya untuk mengambil pelatihan dalam program televisi tersebut dengan tujuan menunjukkan Islam merupakan agama yang baik, mencintai kedamaian dan tercapainya cita-citanya menjadi jurnalis yang dapat diperhitungkan dengan pengalaman yang luar biasa di kota yang penting yaitu New York (Kota yang Magis). Rangga dengan berat hati akhirnya mengikhlaskan hatinya untuk mendukung keputusan Hanum untuk extend selama 3 minggu di New York untuk mengikuti pelatihan di kantor berita GNTV. Dia tdak ingin Hanum berfikir bahwa ikatan pernikahan menghalangi istrinya dalam menggapai impiannya.  Dan, perubahan pun mulai mereka rasakan dalam kurun tiga minggu tersebut. Tak ada lagi, masakan istri yang tersedia bagi Rangga,  salat berjamaah yang mereka biasa lakukan biasanya, ataupun makan malam romantis di luar. Rangga menghabiskan waktunya di perpustakaan milik Mr Brown untuk membuat tulisan mengenai sejarah Islam di Spanyol dengan jurnal-jurnal yang telah dikumpulkan oleh Azzima dengan perasaan campur aduk memikirkan Hanum. Sedangkan Hanum dituntut untuk terus dapat menghasilkan acara yang mampu mencapai rating tertinggi dibandingkan kantor berita lainnya dalam acara Insights Muslim. Setiap episode, Hanum terus merasakan konflik batin, dia tidak ingin menghasilkan cerita seorang Muslim dengan cerita-cerita yang mendramatisir dan membuat obyek berita tersebut menjadi tersudut, namun kembali dia terus dituntut untuk dapat bekerja dengan profesional demi sebuah rating yang mampu menunjukkan kemampuannya sebagai seorang jurnalis yang dapat diperhitungkan tanpa mengenal rasa peduli terhadap objek cerita.  Bagaimana akhir dari aliran cerita ini? Apakah Hanum akan terus mengikuti ambisinya untuk mencapai impian dengan mengatasnamakan citra Islam di mata dunia, dan apakah Rangga akan terus membiarkan sang istri semakin jauh darinya? Azzima maupun Brown tidak menginginkan pasangang favorit ini mnejadi hancur hanya karena ketamakan sesorang demi sebuah image berupa angka-angka rating, apakah yang akan mereka lakukan

Buku ini menceritakan hal yang umumnya saat ini terjadi antara suami istri, tentang impian seorang istri, tentang restu seorang suami dan tentang suatu impian  yang mungkin mampu dicapai namun malah mampu menghancurkan keluarga yang telah terbina dengan baik. Dan semua kembali kepada iman dan keyakinan hati. Apakah kau akan menghnacurkan keluarga yang menjadi impianmu menjadi sakinah, mawadah dan warahmah hanya karena sebuh impian duniamu. Karena bisa jad impian yang menjadi kenyataan, tetapah ilusi dan bisa jadi mampu melupakan iman dan keyakinan yang selama ini dipercayai.  Buku ini mengingatkan bahwa di dunia ini tidaklah ada yang abadi. Kita diberi umur seolah kita hidup (bermimpi tanpa ujung) selamanya, padahal sejatinya waktu kita sangat pendek.  Kejarlah akhirat dan janganlah “lupakan” duniamu, kata-kata yang telah tertera dalam firmanNYa tela menunjukkan bahwa prioritas yang paling penting adalah akhirat namun kamu tetap dapat mengejar impianmu di dunia demi bersinergis dengan apa yang ingin kau capai di akhiratmu.

Buku ni, membuat saya berfikir mengenai kodrat saya sebagai seorang wanita dan akan menjadi istri yang mengharapkan ridho suaminya untuk mendapatkan surga yang telah dijanjikanNya.  Berfikir kembali impian apakah yang saya akan kejar untuk mendapatkan nikmat akhirat namun dapat terus berkarya di dunia guna menjadi orang yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Itulah mengapa saya katakan buku ini sederhana dan amazing, kisah yang sederhana yang sudah sering kita lihat kejadiannya di sekitar kita tentang pencapaian karir, image Islam di berbagai media,  dunia kerja dengan target setinggi mungkin tanpa peduli yang dikemas sebaik mungkin dan memnculkan makna yang sangat dalam. Selamat membaca, pertengahan ini buku Faith and the City dapat dicari di toko buku Gramedia.  Selamat membaca dan semoga bermanfaat ^_^

“Dan kejarlah apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebhagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan (melenakan) bahagiamu dari (kenikmatan) dunia” (QS. Al- Qashshas:77)

Dramaga, Bogor 1.51 a.m

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s