Review: Buku Jodoh by Fahd Pahdepie

lidow

Setelah sukses dengan karya terakhirnya “Rumah Tangga”, bang Fahd Pahdepie kembali menghasilkan karya selanjutnya dengan judul “Jodoh”.  Temanya hampir sama tentang cinta hanya dalam keadaan berbeda. Rumah tannga tentang rasa cinta yang terus terjaga diantara dua insan dengan caranya sendiri sedangkan Jodoh tentang dua insan yang sedang dimabuk cinta. Novel ini menceritakan tentng dua insan yaitu Keara dan Sena yang dimabuk cinta, cinta yang begitu besarnya. Keara dan Sena bertemu saat umur mereka 6 tahun dan disaat itulah Sena jatuh cinta terhadap Keara. Yup, terlalu dini rasanya tapi itulah yang dirasakan Sena yang selelalu rindu melihat Keara, rindu melihat senyumnya, langkahnya, matanya, dan tawanya.

Apakah rasa cinta itu hanya sebatas rasa cinta monyet? Ternyata tidak. Rasa itu terus ada hingga dewasa. Ungkapan perasaan diantara mereka berdua terjadi saat mereka ada di pesantren.  Ternyata Keara pun memiliki perasaan yang sama terhadap Sena.  Skorsing, nasihat, hukuman dari guru pesantren pun tidak dapat menghentikan rasa diantara mereka. Hubungan mereka pun terus berjalan walaupun pada akhirnya Sena harus keluar dari pesantrennya karena penyakit yang dimilkinya.

Namun teryata ujian cinta mereka tidak berakhir hingga disitu saja, Sena akhirnya memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta sedangakn Sena tetap berada di Bandung. Sena melakukan ini dengan tujuan menahan perasaan cintanya yang terlalu besar dan menghindarkan dirinya dari perbuatan yang mungkin tak bisa ditahan. Ternyata hubungan jarak jauh ini berakhir dengan putusnya komunikasi antara mereka berdua. Bagaimana perasaan Keara? Apakah Sena tetap mencintai Keara sama besarnya dengan yang dulu? Atau  Sena telah menemukan wanita lain selain Keara? Cari jawabannya dengan membaca buku ini pastinya :p

Saat membaca buku ini, saya terpesona dengan kata-kata romantis yang diungkapkan Sena terhadap Keara baik secara langsung diutarakan maupun hanya dalam hati. Bang Fahd Pahdepie berusaha untuk dapat menggambarkan perasaan cinta yang begitu besar antara Sena dan Keara. Saya pun tidak menyangka dengan alur cerita yang terdapat dalam novel ini, saya mengira akan berakhir dengan sad ending apalagi dengan sajian beberapa masalah yang ada namun ternyata saya salah. Hal yang saya sukai dengan novel ini adalah cuplikan bait dari setiap karya puisi Sapardi Djoko Damono “Hujan di bulan Juni” menambah romantisme buku ini. Dua kata untuk karya ini “Sederhana dan Romantis”

#Dramaga 21 Desember 2015 Hujan Dera di pagi hari

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s