Review : Film Bulan Terbelah di Langit Amerika

Review : Film Bulan Terbelah di Langit Amerika (Gala Premier)

Yey akhirnya setelah mencoba beberapa peruntungan untuk mendapatkan tiket gratis nonton film Bula Terbelah di Langit Amerika bisa terealisasikan juga.  Dan berakhir, saya mendapat dua kesempatan nonton yaitu pada media screening pada tanggal 15 Desember pukul 14.30  sebagai blogger dan pada pukul 19.15 sebeagi reviewer buku Faith and the City. Alhamdulillah.. Setelah melalui drama panjang *lebayyy dari ga jadi ngelab karena waktu udah mepet dengan selesainya sidang temen saya, hingga salah turun stasiun. Wkwkwk. Dan maps di grab taxi bikin saya bingung beda banget sama google maps yang saya lihat. Kan jadi tambah lieur….

Terus menurut saya bagaimana film ini? Baca lebih lanjut

#Review Film : Assalamua’laikum Beijing

Akhirnya, setelah mencari waktu yang pas dan luang saya bisa menonton film ini “Assalamua’alaikum Beijing”. Film yang disutradarai oleh Garin dari sebuah novel karangan penulis wanita yang brilliant “Asma Nadia”. Sebelum film ini launching pada tanggal 30 Desember 2014, saya beruntung karena dapat melihat roadshow dari promosi film ini di kampus saya, IPB Dramaga. Namun sayang, karena kesibukan saya, saya baru bisa menonton di pertengahan Januari. Saya tertarik dengan film ini karena saya melihat trailer film ini di dalam acara roadshow tersebut. Rasa tertarikpun semakin bertambah setelah melihat antusiasme dari para penonton roadshow yang ingin sekali melihat film ini serta beberapa teman saya yang bercerita di media social tentang bermaknanya film ini.

poster-resmi-assalamualaikum-beijing-407x600

Film “Assalamua’laikum Beijing” ini menceritakan mengenai perjalanan kehidupan seorang wanita bernama “Asmara” dengan panggilan Asma (diperankan oleh  Revalina S Temat) di negara Beijing saat bekerja. Pekerjaan itu, dia ambil untuk belajar mengobati raasa sakit hati yang dia raasakan karena pengkhianatan calon suaminya yang ternyata berselingkuh dan pernikahan yang telah mereka rencanakan pun gagal. Asamara bekerja sebagai penulis di sebuah rubric majalah di Indonesia dan dia meenuliskan mengenai Beijing serta kehidupan masyarakat muslim di Cina. Dalam perjalanan risetnya untuk mencari bahan tulisan, Asmara bertemu dengan seorang warga Cina yaitu Zweng Chu ( diperaankan oleh Morgan)  yang berkerja sebagai Tour Guide. Di mata Zweng Chu, sosok Asmara mengingatkannya pada legenda yang terkenal di Cina yaitu seorang wanita cantik dan baik bernama Ashima. Dalam perjalanannya,  Zweng Chu dan Asmara pun semakin dekat namun terhalang dengan keyakinan Zweng Chu yang tidak menyakini suatu agama, dia hanya menyakini Tuhan itu ada. Suatu ketika, Asmara jatuh sakit karena suatu penyakit yang cukup langka yaitu mengenai kekentalan darah yang dapat mengakibatkan buta, stroke, dan rusaknya beberapa saraf. Asmara pun kembali ke Indonesia untuk melakukan pengobatan. Zweng Chu merasa kehilangan  dengan kepulangan Asmara tanpa mengetahui penyakit yang sedang dihadapinya. Singkat cerita, Zweng Chu berkunjung ke Indonesia untuk menemui Asmara dan menyatakan niatnya untuk menikahi Asmara. Zweng Chu pun telah menjadi mualaf karena dia mendapatkan hidayah-Nya melalui Asmara. Saat pertemuan itu berlangsung, Asmara pun kembali mendapatkan serangan penyakit tersebut yang mengakibatkan Asmara tidak dapat berbicara. Keadaan tersebut tidak melunturkan niat Zweng Chu untuk menikahi Asmara apapun keadaanya.

Isi film ini tidak akan saya ceritakan seluruhnya pastinya, supaya yang baca tulisan ini pun penasaran dengan  isi film ini. ^_^ . Saat saya menonton film ini, seluruh penonton yang menonton film ini pun seperti merasakan pesan yang terkandung dari film ini dan seperti mempunyai semangat yang besar untuk terus berubah menjadi lebih baik dan tidak terpuruk dalam suatu kejadian termasuk mengenai masalah hati. Pesan yang terkandung dari film ini kurang lebih adalah :

  1. Jangan pernah takut dengan ujian yang diberikan Allah SWT karena itu adalah keputusan-NYa yang terbaik dan salah satu hikmah-Nya adalah untuk meningkatkan tingk kadar keimanan kita
  2. Sebagai seorang muslimah teruslah menjaga kehormatanmu termasuk dalam hubungan terhadap yang bukan mahramnya.
  3. Jangan pernah terpuruk terlalu lama dengan suatu kejadian atau peristiwa yang menyakitkan tapi jadikan kejadian itu sebagai titik dimana kamu akan menjaddi lebih kuat dari kamu yang sebelumnya
  4. Dunia tanpa agama akan lebih hancur karena keserakahan dan keegoisan dari manusia karena tidak ada pedoman yang mereka yakini
  5. Jangan pernah meremehkan ataupun mengkucilkan temanmu yang beragama lain ataupun tidak beragama. Islam mengatur tentang hubungan manusia dengan manusia, so lakukanlah dengan ikhlas peraturan tersebut
  6. Cinta dengan niat karena Allah, niat untuk menuju surga Allah in shaa Allah akan selalu diberkahi oleh Allah swt
  7. Jangan pernah pesimis dengan kegaagalan yang pernah terjadi dalam kehidupan karena kejadian tersbeut hanyalah sebuah kesuksesan yang tertunda dan akan terjadi pada waktu yang tepat dan indah dalam kehidupan kita

Nah, kira-kira itulah makna yang bisa saya dapatkan dari film ini. Secara subyektif saya mengenai film ini adalah saya suka teknik pengambilan gambar dalam film ini apalagi saat Zweng Chu dan Asmara berada di Tembok Besar Cina di saat itulah terdapat fenomena matahari terbenam yang berada terlihat dekat dengan sebuah bukit. Saya suka sekali dengan pemandangan tersebut. Kemudian pengambilan gambar saat kunjungan Zweng Chu dan Asmara untuk melihat patung Ashima, di sana terlihat sekali banyak batu-batu besar dan tinggi terlihat sangat alami dan indah. Pengamatan saya mengenai pemeran dari film ini baik, walaupun peran Ibnu Jamil sebagai Dewa (mantan pasangan Asmara) terlihat sangat berbeda, serius dan terlihat galak. Jujur saya menjadi ingin tertawa karena saya biasa melihat dia dengan peran yang lucu sama halnya dengan peran Desta sebagai Ridwan yang terlihat bijaksana namun saya biasa melihat dia sebagai pelawak jadi terasa berbeda dan aneh saja. Sedangkan pemeran utama dari Zweng Chu (Morgan) menurut saya logat Cina yang diucapkan masih terasa sekali logat Indonesianya sehingga tidak terlalu memperlihatkan aksen dia sebagai seorang warga Cina. Pemeran utama yaitu Revalina S Temat, saya selalu menyukai acting dia di film apapun, menurut saya dia selalu total termasuk saat adegan dia harus mengalami penyakit stroke. Sedang peran pembantu lainnya seperti Laudya C. Bella cukup baik dan saya cukup terhibur dengan peran dia yang hiperbola tentang kehidupan Asmara.

Inilah review saya mengenai film “Assalamualaikum Beijing”. Mudah-mudahan Maxima Pictures pun akan terus menghasilkan film-film berkualitas lainnya seperti 99 Cahaya di Langit Eropa dan Asslamua’laikum Beijing. Film-film yang dapat membuat penonton yang saat keluar dari bioskop memiliki semangat optimisme untuk mencapai tujuannya dan menunjukkan dirinya sebagai Agen Muslim yang baik karena Islam itu sejatinya Indah.

#agessty #15Januari2015 #11.53pm #Dramaga